Senin, 24 Desember 2012

Di Ruang Tunggu


Beberapa baris dari arah kanan, aku seorang wanita yang memeluk lengan.

Tidak pernah terpikirkan,
aku akan berada dalam barisan.

Sejenak sempat ku acuhkan, sampai ditegur oleh sebuah tamparan.
Kulirik semua wanita yang sedang berdesakan,
Mereka menawan.

Lalu,
dicermin terpantul sebuah bayangan.
Sangat tidak mengesankan.
Aku tersadarkan.

Tidak seharusnya aku di sini.
Satu baris dengan semua bidadari.
Membentuk lini,
yang satu kali senyum, mereka bisa saja mendamaikan bumi.

Tidak semestinya aku begini.
Menunjukkan wajah yang minta dikasihani. Dari dahi sampai kaki,
tidak ada keindahan sama sekali.

Tidak.
Aku tidak pantas ikut menunggu.
Mengharap kau membagi cerita sedihmu, menyediakan bahu.
Mengharap kau ketika kupuji, tersipu malu.

Lalu,
kutinggalkan ruang tunggu itu.
Meski aku tau kejamnya rindu, sakitnya pilu,
paling tidak aku masih bertemankan waktu.
Yang akan membuat semuanya kembali seperti dulu.
Sesaat sebelum mengenalmu.

31 Oktober 2012
Ketika tersadar, tak seharusnya menunggu untuk sesuatu yang bukanlah kita arah tujuan.

Senin, 16 April 2012

Pengakuan

Datang dalam hening malam, menyeruak degup jantung.

Kau menghampiriku dengan pesona,
memekakkan hati.
Menyesakkan nafas, menguntai kata mesra, menghambur senyum tulus.

Teriris.

Namun, tersisa senyum tipis. Kita hanya ditemani canda tanpa rasa.

Berdiri kokoh di atas koyak luka.

Lantang dengan seruan menutupi isak.

Tertawa renyah dibalik maki.

Aku Munafik.

Selasa, 03 April 2012

Adalah Rindu

Adalah rindu yang membuat alunan merdu dalam setiap nyanyianmu.
Adalah rindu yang pernah menahanmu meski ego sedang menjadi peluru.
Adalah rindu yang membuatku tidak berhenti mengecupmu meski aku meragu pada ketulusanmu.
Adalah rindu yang ada pada keberanianmu menyapaku, padahal kita tahu pernah ada gengsi yang terlalu.
Adalah rindu yang membuat detak jantungku bertalu-talu pada saat ku dengar tawamu gaduh.

Minggu, 29 Januari 2012

Tentangmu Bagiku

Sebenarnya kita sudah satu rasa, tapi kamu masih mengeja dalam jeda yang kau namakan “hingga”. Ia, kamu bersembunyi di dalam waktu.

Pertahankan saja logikamu. Acuhkan kata hatimu, sampai sembilu berlalu dalam liku. Sampai malu mengucap syahdu. Sampai kau menyesal dulu.

Kelak, waktu akan mentertawakan apa yang kau bawa hari ini. Ia, keangkuhanmu.

Mungkin saja rinduku yang tak menguatkanmu, atau mungkin saja kepalamu yang terlalu batu. Mungkin saja..

Pernahkah kau tahu, aku selalu menunggu? Pernahkah kau rasa aku berurai air mata? Kurasa tidak. Kau terlampau jauh dengan gurauanmu.

Kau bilang biarkan takdir yang mengetuk palu, tetapi mengapa kau enggan mencoba sendu? Nyanyikan ritme dalam galau, lalu ku buai kau dengan rindu.

Entahlah, kau yang terlalu keras kepala atau aku yang kelewat memuja.
Kita pernah bertemu dalam satu rasa, namun kau gundah. Kau ucapkan sudah.

Aku pernah mengeluh, dan tentu terasa pilu menunggu kau luluh.

Kini kita menunggu, dalam waktu yang sungguh terlalu haru. Kudendangkan satu rindu untukmu. Selalu..
Seperti mewarnai, aku kehilangan merah itu. Lalu ku tutupi saja dengan merah muda. Lagi, aku mengagungkanmu. Marah jadi kasmaran.