Minggu, 23 Februari 2014

Rima


Tidak seperti puisi yang berirama,
Kita serasi yang tidak ada.

Aku suka puisi, padanya aku bebas berekpresi.
Mengutukmu lalu mencinta kembali tanpa merasa risih.

Seperti buku yang lama tidak terbaca, hati kita adaalah lembaran – lembaran kering penuh makna. Dan pikiran yang terlalu lambat menua.

Kita pernah sangat merindu, lalu memakai sepatu buru – buru dan ingin saling bertemu. Ah ya, di bawah lampu meja lantai satu, kau pertama kali mengecupku. Malu – malu.

Sekarang, kita tidak lagi kita. Kita tidak lagi satu kata. Kita tidak lagi sama pinta.

Senin, 10 Juni 2013

Kepada Pria (4)

Ada kalanya rindu juga merindu.
Ingin melihat senyum di dalam temu.
Meski saat itu suasana semu, namun rindu sedang tertawa haru.
Mengalahkan waktu.

Ada kalanya benci juga dibenci.
Terus berlari.
Seakan tidak ingin kembali.
Berlari sampai ujung bumi.
Berlari hingga ujung kaki. Namun benci berasal dari hati.
Tempat cinta pernah bersemi.

Ada kalanya bosan juga membosankan.
Ingin teriak diantara debur ombak. Atau hanya berpangku tangan di jembatan penyebrangan.
Tapi bosan akan segera hilang,
dan kembali merindu pelukan.

Jika nanti aku bilang rindu, mungkin saja besok aku bilang benci.
Lalu lusa bilang bosan.
Lalu lusanya lagi kembali merindu.
Ini aku dengan rasaku, sambut aku dengan maklum.
Aku hanya mahluk Tuhan, yang katanya tidak sempurna.

Kepada Pria (3)

Mulai pada curi-curi pandang sampai merindu dalam-dalam,
semua aku lakukan diam-diam.

Mulai dari memikirkan semalaman sampai terbawa mimpi berturut-turut sepekan,
aku pecinta yang pandai menyembunyikan.

Aku pernah mencoba bilang, mencoba mengatakan, sampai aku lihat diriku sekarang,
seorang hina yang tidak akan kau inginkan.

Nanti mungkin akan aku sesalkan, kenapa tak coba saja aku ungkapkan. Atau mungkin akan tetap aku sembunyikan, sampai rasa ini sendirinya hilang.

Di Masa Itu

Di masa itu,
Ada rasa yang tidak diungkapkan.
Ada ingatan yang hanya jadi kenangan.
Ada rindu yang tidak tersampaikan.
Ada kita yang tidak tersatukan.

Di masa itu,
Kita saling sibuk menyembunyikan.
Kita sama-sama angkuh menyatakan.
Kita hanya tegur sapa dalam lirikan.
Kita, yang "Kita" bukan tujuan.

Di masa itu,
Adalah masa yang kini kita sesalkan.
Adalah masa yang kita ingin ulang.
Adalah masa yang begitu saja kita lewatkan.

Di masa itu,
Aku dan kamu saling jatuh cinta. Diam-diam. Lagi-lagi.