Aku buku cerita yang belum habis dibaca. Di tengah-tengah, ada seutas pita merah penanda masa yang diletakkan pria berkacamata.
Aku bola kaki yang belum masuk gawang. Menggelinding di tengah lapang. Kesasar di lini belakang. Dikejar kaki pria berdada lapang.
Aku gitar akustik yang belum pernah dipetik. Bersenar usang, sangat ingin berdendang. Mulutku penuh nada kunci, ingin bernyanyi untuk pria yang sedang sendiri.
Aku merotasimu, menjelajah ditiap waktumu. Aku jatuh cinta dan tidak sedang pura-pura. Hanya tidak mau ketahuan saja.
Jumat, 12 April 2013
Senin, 24 Desember 2012
Wanita yang mencintaimu dengan bodoh
Inilah aku
wanita yang mencintaimu dengan bodoh.
Yang merindumu
dalam, setiap hari.
Yang
menginginkanmu sampai mati.
Inilah aku
wanita yang mencintaimu dengan bodoh.
Yang senyummu
selalu kukagumi.
Yang tingkahmu
selalu kuteliti.
Inilah aku
wanita yang mencintaimu dengan bodoh.
Yang menantang
duniapun, aku berani.
Tapi
memandangmu cuma selalu curi-curi.
Inilah aku
wanita yang mencintaimu dengan bodoh.
Bangga. Tapi
terlalu takut untuk sakit lagi.
Diam. Padahal
inginkan kau jadi pengisi hati.
Inilah aku
wanita yang mencintaimu dengan bodoh.
Yang menunggu
takdirnya dibawakan oleh Ibu Peri.
Mengharap
keajaiban datang lagi.
Kepada Pria
Kau, Pria
berkemeja putih.
Yang duduk
menyilang kaki.
Yang menikmati
secangkir kopi.
Aku, jatuh
hati.
Kau, pria yang
ingin namanya kuketahui.
Berbalik
sebentar kea rah kiri.Aku sedang mengagumi dari sini.
Aku sudah lupa
rasa perih.
Kau, pria yang
kuharap tak ada yang mendampingi.
Tahukah kau
berapa banyak Adam yang iri?
Tahukah kau
berapa banyak Hawa yang ingin menyerahkan diri?
Aku, pecinta
yang rasanya sudah mati.
Kepada Pria
yang kujumpai dalam mimpi,
Yang karenamu
aku mencipta sejuta puisi,
Yang nantinya
akan kupersembahkan kepadamu isi bumi,
Bisakah kita
saling mengenalkan diri?
Balikpapan,
Dunkin Donut
28 Oktober
2012.
Di Ruang Tunggu
Beberapa baris dari
arah kanan, aku seorang wanita yang memeluk lengan.
Tidak pernah
terpikirkan,
aku akan berada dalam
barisan.
Sejenak sempat ku
acuhkan, sampai ditegur oleh sebuah tamparan.
Kulirik semua wanita
yang sedang berdesakan,
Mereka menawan.
Lalu,
dicermin terpantul
sebuah bayangan.
Sangat tidak
mengesankan.
Aku tersadarkan.
Tidak seharusnya aku di
sini.
Satu baris dengan semua
bidadari.
Membentuk lini,
yang satu kali senyum, mereka bisa saja mendamaikan bumi.
Tidak semestinya aku
begini.
Menunjukkan wajah yang
minta dikasihani. Dari dahi sampai kaki,
tidak ada keindahan sama
sekali.
Tidak.
Aku tidak pantas ikut
menunggu.
Mengharap kau membagi
cerita sedihmu, menyediakan bahu.
Mengharap kau ketika
kupuji, tersipu malu.
Lalu,
kutinggalkan ruang
tunggu itu.
Meski aku tau kejamnya
rindu, sakitnya pilu,
paling tidak aku masih
bertemankan waktu.
Yang akan membuat
semuanya kembali seperti dulu.
Sesaat sebelum
mengenalmu.
31 Oktober 2012
Ketika tersadar, tak
seharusnya menunggu untuk sesuatu yang bukanlah kita arah tujuan.
Langganan:
Postingan (Atom)