Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Teruntuk Peminjam Kata



Barangkali keberadaan surat ini jadi pikiran di benakmu yang penuh dengan keindahan kata. Namun entah bagaimana, rasanya senang membayangkannya. Sebelum mencapai paragraf dua, kukenalkan seorang wanita yang mendadak jadi penikmat rangkaian kata yang kau unggah di sosial media. Icha. Kita bisa memulainya dengan nama, untuk kelanjutan cerita, mari menunggu takdir Tuhan sebagai penentunya.

Mengagumi menjadi salah satu kebiasaanku, Tuan. Tidak apa – apa jika kupanggil Tuan? Secara resmi memang kita belum berkenalan. Aku yang menyapa dan menyebutkan nama duluan. Dari sekian panggilan sopan, kurasa “Tuan” adalah yang paling berkesan. Mungkin alasannya sederhana, biar lebih kepepuisian. Haha, untuk candaanku yang tidak lucu, maafkan.

Kuharap kekagumanku tidak menyusahkan. Jika ternyata mengungkapkannya membuat Tuan tidak nyaman, sekali lagi maaafkan. Entah sejak kapan kepalaku mulai kepikiran tentang surat – surat yang Tuan tuliskan. Tiba – tiba saja kutemukan diriku menjadi kecanduan. Setiap petang seusai adzan, aku akan memulai kebiasaan baruku membuka blog Tuan. Dengan sangat tekun, halaman  demi halaman kubaca pelan. Menyesapi setiap kata yang tertuang, setiap makna yang ingin Tuan sampaikan. Indah sekali, Tuan. Tentang pujian, ini masih kurang menggambarkan dari yang Tuan pantas dapatkan.

Jika tidak salah terka, Makassar adalah kota tempat sekarang Tuan berada. Kota tempatku lahir dan besar sampai remaja. Namun setelah Ayah merasa nafkah mulai susah dicari di sana, beliau memutuskan untuk pindah ke kota Samarinda. Mungkin untuk kali pertama, meskipun masih SD kelas lima aku sudah tahu arti berpisah. Hari itu aku menangisi tetangga, keluarga dan teman sekolah yang tak bisa kuajak ikut pindah. Makassar, kota besar dengan segala hingar bingar, tentang preman yang tersebar. Orang – orang yang kurang berbekal rasa sabar. Aku tidak asal cecar, namun begitulah keadaan penduduk sekitar. Meskipun begitu, aku mencintai kota Makassar. Budaya sopannya mengakar, menandakan mereka juga terpelajar. Sepertinya batas curhat sudah kulanggar. Maafkan aku untuk curhat yang tidak kelar – kelar.

Tuan, surat ini bukan apa – apa jika dibandingkan dengan keahlianmu merangkai kata. Melalui kata yang Tuan sandingkan bersama, bisa tercipta bahagia. Tidak jarang luka. Boleh aku bertanya? Sihir apa yang Tuan pakai di pena sampai bisa membuat dunia maya lebih kucari dari nyata? Beberapa saat setelah #30HariMenulisSuratCinta, fokusku jadi tertuju linimasa @zulkipeputra. Beberapa kali pernah kubaca bahwa rasa sakitlah yang bisa membuat karya melegenda. Ah, aku mengucap seribu doa. Semoga untuk karyamu bukan sakit dalangnya.

Iri sudah pasti pernah. Melihatmu, memahat kata sepertinya mudah. Sementara aku harus menguras otak dan tenaga untuk bisa menghasilkan sebuah karya. Itupun seadanya. Lain dengan milikmu yang nyaris sempurna. Tetapi aku tidak akan menyerah untuk menciptakan karya. Kan yang menjadi tujuan utama adalah menumpahkan segala rasa. Menuangkan cerita – cerita yang kadang kala tidak bisa tercipta di lidah. Indah atau tidak, bukan masalah.

Tuan, betulkah kata yang kau tabur hanya pinjaman? Jika begitu, kapan akan tuan kembalikan? Apa jaminan untuk meminjam kata yang sebegitu indah bukan kepalang? Tolong jangan bilang jika harga yang harus dibayar untuk meminjam adalah kenangan. Kalau memang iya, pasti perihnya tak tertahan.

Tuan, suratku sampai pada paragraf akhir. Jangan cari ide cerita yang terlahir. Sungguh di dalam surat ini hanya tumpahan rasa getir yang muncul karena keahlian mutakhir. Bila nanti aku ada di kota kita, bisakah rasa kagumku dipertemukan dengan pemiliknya? Pinggir pantai losari bisa jadi tempatnya. Tuan juga bisa cerita (atau mengenalkannya padaku) tentang wanita bernama Maneka yang kuyakin cantik parasnya. Doaku mengudara, semoga kalian selalu bahagia. Bersama.

Dariku,
orang perumnas sudiang yang biasa ji kodong tapi mau jadi teman ta’.

Sabtu, 21 Februari 2015

Dua Puluh Tiga Untuk Muhibatul Jannah



Semesta, tahun dua ribu lima belas bulan dua tanggal dua puluh dua.
Untuk yang kami cinta, Muhibatul Jannah.

“Selamat mengulang tahun, Muhibatul Jannah.Kami aamiinkan segala semoga, Kami semogakan semua harap. Kami harap semua diaamiinkan.”

Selamatduapuluhtigatahun, Sayang.

Hari ini doa terbaik untukmu sedang dikumandangkan satu – satu dari seluruh penjuru. Mulai dari Ibu, keluarga, sahabat, teman, sampai handai taulan nun jauh. Tidak satupun yang luput, semoga kau bahagia selalu, rejeki yang terus bertambah, kesehatan yang baik – baik saja serta jodoh yang dipersatukan segera. Nikmatilah, Sayang. Pertambahan usia menandakan semakin banyak yang telah kau lalui, namun semua harus bisa kau atasi. Jika hari kemarin kau pernah berbuat salah ya tidak apa – apa. Kau masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.
Selamat dua puluh tiga tahun, Sayang.

Mengikhlaskan memang selalu lebih berat daripada memperjuangkan. Alasan itulah yang menjadi patokan kenapa beberapa orang lebih suka berlama – lama dengan rasa sakit. Tapi ingat, jika mengikhlaskan memang sebegitu berat bukankah hasilnya jauh lebih hebat? Tidakkah kau pikir begitu? Ah, mungkin aku saja yang sok tau. Seperti katamu, aku wanita yang pandai berbicara namun tak bisa merealisasikannya. Tunggu, kenapa ini tentangaku? Ini kan harimu. Maaf.

Selamat dua puluh tiga tahun, Sayang.

Aku sebagai teman yang datang dari enam tahun silam selalu merasa diberkahi dengan kehadiranmu di sisi. Tentu teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Kehadiranmu di setiap cerita memberi arti yang berbeda. Semangatmu untuk menjadi penyemangat kami selalu tidak pernah salah dalam setiap langkah. Meskipun kebiasaan selfiemu terkadang membuat kami pusing, tapi tidak mengurangi rasa kasih kami terhadapmu. Tahun ini mungkin tidak ada kejutan, hanya sekotak kado yang datang dari hati paling dalam. Tentu saja doa dan harapan mengalir deras sejak semalam. Semoga yang terbaik dikabulkan Tuhan ya, Sayang.

Selamat dua puluh tiga tahun, Sayang.

Bahagialah dengan caramu sendiri. Bahagialah dengan apa yang kau miliki dan apa yang ingin kau capai. Bahagialah sampai akhir umurmu nanti. Sambut dua puluh empat mu dengan suka cita. InsyaAllah, tahun ini nikah. Haha.
 
Dari Kami-Mu.

Tamu Tak Diundang



Apa kabar Kak Rahne? Semoga kakak dan keluarga selalu baik – baik saja. Maafkan saya ya kak yang gak bisa bikin surat – surat puitis seperti pengagummu yang lain. Hehe. Kakak pasti sudah biasa menerima surat cinta. Saya adalah pengagum kesekian yang menulis surat untuk kakak. Meskipun begitu, saya harap kakak sempat untuk membacanya. Kenalkan, saya Icha. Salah satu pengagum dari tweet, blog, soundcloud dan buku kakak. Untuk pujian, saya rasa kakak sudah sering mendengar ataupun membacanya. Tapi beneran deh saya selalu karya yang kakak hasilin. Nilai seninya (yang dinilai dari orang awam seperti saya) sangat tinggi sekali. Saya selalu menemukan hal berbeda dari apa yang kakak hasilkan dan yang orang lain hasilkan (bolehkan karya disebut sebagai “hasil”?). Dari pemilihan kata, sudut pandang dan juga pemikiran. Duh, maafkan saya jika sok tau ya, Kak. Kekaguman saya bertambah ketika bertemu langsung dan mengetahui bahwa kakak ternyata pribadi yang hangat. Nah, pertemuan ini yang saya ingin jelaskan.

Kak, sebenernya saya di sini mau minta maaf dan melakukan pengakuan dosa yang saya sudah lakuin ke keluarga kakak baru – baru ini. Maafkan saya yang baru sempat meminta maaf sekarang. Tenang kak, ini tidak termasuk dalam level kejahatan yang tinggi sih cuma tetap saja saya merasa sangat gelisah jika belum meminta maaf. Jadi gini, beberapa waktu lalu ketika pernikahan Kak Kharis dan Kak Irma sedang berlangsung kakak pasti ingat bahwa ada dua orang wanita yang menghampiri kakak dan tiba – tiba mengajak kenalan. Dan minta tanda tangan. Dan Foto bareng. Dan ngajak ngobrol. Itu saya dan teman saya. Kedatangan kami ke sana sebenarnya sebagai tamu yang tak diundang. K Yak, tidak ada undangan resmi yang datang pada saya ataupun teman saya untuk menghadiri pernikahan Kak Kharis dan Kak Irma pada hari itu. Semua berasal dari keisengan saya main – main hape temen saya dan tidak sengaja melihat display picture kontak bbm temannya teman saya yang berupa undagan pernikahan Kak Kharis dan Kak Irma. Duh, ini sedikit ribet ya, Kak. Sebelumnya, temennya temen saya yang kebetulan adallah teman SMP Kak Irma sudah konfirmasi ke Kak Irma kalau kami mau datang. Dan Kak Irma berbaik hati sekali memperbolehkan kami datang. Tapi tetap saja saya rasa pada hari itu kami datang sebagai tamu tak diundang. Atau mungkin lebih tepatnya tamu yang maksa ingin diundang. Tapi kami gak makan kok kak. Kami cuma sempat ngambil souvenir. Dua buah. *digeplak* Dan, saya juga mau minta maaf sama Kak Kharis juga Kak Irma karena acaranya didatangi oleh tamu tak diundang :( Dan kesalahan terbesar saya, saya bahkan tidak menyempatkan bersalaman dengan mereka dipelaminan karena terlalu sibuk dan  heboh nyariin kakak di antara undangan yang hadir. Namun doa yang baik - baik saya panjatkan tulus untuk kebahagian mereka berdua. Aamiin.

Sebelumnya saya juga sudah menimbang baik buruknya serta adat istiadat yang akan saya langgar jika saya datang sebagai tamu tak diundang, namun saya bisa apa jika orang yang saya kagumi sedang berada di satu kota dengan saya? Saya benar – benar dibutakan oleh rasa kekaguman, Kak. *Halah* Jangan anggap saya semacam “fans yang mengerikan” yah, Kak. Saya follow kakak dari 2011. Dan semenjak itu saya juga menyadari bahwa sebenernya saya suka menulis. Suka kak, bukan berarti bisa. Hehe. Sejak itu juga saya rutin sekali update isi tumblr kakak. Dan mencoba belajar menulis. Dari menulis saya sadar bahwa ada hal – hal yang gak bisa diomongkan dengan kata ternyata jauh lebih baik jika ditumpahkan dengan tinta. Oke, saya mulai sok tau lagi. Hehe.

Sekian dulu ya, Kak. Saya harap saya dimaafkan. Nanti, kalau ke Samarinda lagi saya janji ajak jalan – jalan. Ngg, kalau kakak mau. Hehe.

Salam hormat saya,
Icha.

Jumat, 20 Februari 2015

Surat dari Sahabat Ibumu


Teruntuk Dzakir  Hafid atau Fitri Rafifah,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nak, kau pasti sudah bisa membaca. Entah bagaimana surat ini akan sampai padamu, tapi yang pasti bukan karena ibumu yang memberitahu. Aku paham betul watak perempuan pelupa satu itu. Namun Nak, untukku ibumu adalah salah satu anugrah terbaik. Ibumu datang sebagai sahabat. Surat ini kutulis ketika Ibumu sedang mengandung lima bulan. Beberapa hari lalu Ibumu menelponku. Ah, dari nada suaranya bahagia sekali jadi dia. Mencintaimu dengan sangat adalah apa yang dapat kusimpulkan dari perbincangan kami yang sesaat. Entah berapa usiamu setelah kau bisa membaca surat ini. Jika tidak salah duga, kau akan membaca saat usia lima. Ibu dan Ayahmu adalah pengajar yang handal, Sayang. Dan aku juga yakin kau adalah anak yang cerdas.

Aku menulis surat ini sebelum kau terlahir ke dunia. Pun belum punya nama. Kemarin Ibumu berbasa – basi padaku kalau minta dicarikan nama yang tepat untuk anak pertamanya. Padahal aku tahu kalau sebenarnya dia sudah punya nama untukmu kelak. Tapi Nak, sebagai sahabat yang (berusaha) baik, maka kusiapkan nama dengan pilihan doa terbaik. Dipakai Alhamdulillah, tidakpun juga tidak apa – apa.

Jika lelaki, kau kuberi nama Dzakir Hafid. Dua kata. Seperti nama kedua orang tuamu. Nur Hidayah dan Agna Fadli. Dzakir Hafid mempunyai arti “Penghapal Al-Qur’an yang punya daya ingat kuat”. Tentu kaupun paham kan, Nak? Harapanku juga kedua orang tuamu kau bisa menjadi penghapal Al –Qur’an. Untuk penuntun hidup, Nak. Aku tidak tahu bagaimana kelak duniamu namun untuk kami, dunia sudah terlalu tua. Sudah banyak kejahatan di mana – mana. Kami harap sebagai penghapal Al – Qur’an kelak kau akan menjadi penunjuk jalan yang benar. Yang di ridhoi oleh Allah. Nak, hidup di dunia tidaklah mudah namun jangan khawatir. Banyak orang terkasih yang akan bersamamu. Aku sudah pernah bertemu dengan mereka semua. Jangan takut sendri. Selain ibu dan ayahmu, kau akan punya Tante dan Om yang baik – baik. Serta kakek nenek yang akan senantiasa menyayangimu. Juga jangan lupa sepupu – sepupu yang kelak akan kau panggil “Kakak”.

Jika wanita, kau kuberi nama Fitri Rafifah. Sederhana tapi sarat makna. Afif bisa jadi nama panggilanmu, Nak. Namamu punya arti “Yang suci dan akhlaknya baik”. Nama ini sudah mewakili doa yang menyayangimu kurasa. Dengan paras yang diwariskan ibumu, kau sudah tentu cantik. Nak, kelak jika memilih sahabat carilah yang seperti ibumu. Ibumu adalah icon sahabat paling hebat. Tidak cuma pendengar sejati, dia juga pencari solusi. Dia paham betul kapan harus mendekap supaya kita merasa dimiliki dan kapan harus dihujat agar kita bisa memperbaiki diri. Aku tidak terlalu akrab dengan ayahmu, namun sebatas yang ku tahu dia salah satu lelaki paling tangguh. Memperjuangkan ibumu adalah satu alasan kekagumanku padanya.

Nak, jika suatu saat kalian butuh sahabat maka akan kulahirkan anak lain dari rahimku yang dikenal sebagai wanita yang hatinya kuat :”)


Dari Sahabat Ibumu yang tidak ingin dipanggil “Tante”.

Kamis, 19 Februari 2015

Surat Dari Samarinda

Samarinda, 19 Februari 2015.

...Untuk para perangkai kata yang akan berbahagia di sana...

Saat seperti ini aku benar - benar berharap bahwa "pintu kemana saja"nya Doraemon nyata. Apa yang lebih membahagiakan selain berada di tempat yang sama dengan semua pecinta kata? Kalau saja jarak dapat kulipat, dan waktu tak bersekat akan sangat mudah bertukar peluk erat.

Tidak berlebihan rasanya kalau aku bilang rindu. Meski tatap belum pernah bertemu namun kata kita sudah saling taut jadi satu. Sebagai sesama penulis surat, aku rasa kita sudah sama - sama terpikat. Ini kali pertama aku mengikuti #30HariMenulisSuratCinta tapi semua sudah seperti keluarga.

Bandung memang salah satu destinasi impian. Mungkin Tuhan belum mengijinkan kakiku berpijak di kota kembang. Ingin sekali rasanya jatuh cinta di sana. Dengan pengetahuan seadanya, lelaki sana tampan - tampan parasnya. Benarkah?

Untuk para penulis surat, kang pos dan bosse, selamat bersenang - senang yah kalian. Aku di Samarinda suatu saat akan datang sambil membawa beberapa bungkus amplang. Untuk Mas Dimas, boleh aku minta jemput? Rumahku depan Pasar Dayak.

Dari Icha,

Penulis surat yang sering curhat.

Rabu, 18 Februari 2015

Pertama Kali

Untuk: Rizkiawan.

Sapaan canggung untuk kamu, Ki. Hai. Sebelum nanya kabar, kamu pasti bingung kenapa surat ini bisa sampai ke kamu dan siapa aku. *atau gak?* Oke, mari kenalan (lagi). Aku Icha, Ki. Temen sekelas kamu selama tiga tahun di SMP. Udah lupa ya? Aku gak kaget sih. Maklum, dulu aku kurang eksis. Sekarang pun kalau dibandingin sama  pergaulan kamu yang luas aku sih cuma minoritas. Haha.

Gimana kabar kamu? Sehat? Semoga yah. Entah apa alasan aku mendadak nulis surat ini ke kamu juga bikin aku bingung. Beberapa waktu belakangan ini, aku keingetan kamu. Selama lulusan SMP kan kita gak pernah sama sekali ketemu. Sama sekali. Kurang lebih 8 tahun kali yah? Waktu yang cukup lama. Tapi aku masih bisa ingat setiap detail wajah kamu kok. Tulang rahang yang keras, garis mata yang tegas, perawakan yang dibilang tinggi gak, dibilang pendek juga gak. Kulit hitam dan senyum kamu yang sama manisnya. Hehe.

Kemaren aku sempat chatting sama Inu, nanyain kabar kamu. Kalo sama Inu masih inget dong? Iyak. Temen SMP kita dan temen SMA kamu. Eh, SMK deng. Tadi pagi dia ngasih aku alamat Facebook kamu. Uda aku stalk dan udah di Add. Hasilnya aku tahu kalau kamu uda lulus kuliah dan pernah bekerja di salah satu franchise makanan cepat saji. Dari photo  - photo yang aku lihat, kamu gak berubah banyak kecuali kumis yang nambah aura kejantanan kamu. Haha.

Mari balik ke beberapa tahun silam. Inti surat ini sih sebenernya pengen bilang kalo dulu aku kagum sama kamu. Kalo dibilang “Jatuh Cinta” terlalu ekstrem kali yah, mungkin “tertarik”? Lagian apa sih yang anak usia 13 tahun tahu tentang cinta? Kamu tahu gak kalo dulu tiap baris depan pintu kelas aku selalu milih barisan yang ada kamunya? Tiap pembagian kelompok belajar aku pengen yang ada kamunya? Tiap istirahat akan milih kantin yang kamu tempatin makan? Oke, ini bikin kamu kaget? Atau malah bikin kamu ngerik? Mari berhenti. Apa yah? Bisa dibilang kamu yang pernah bikin jatungku deg – deg kan kalo pas kita lagi gak sengaja tatapan mata. Kamu yang pertama yang bikin aku bangun lebih pagi dari biasanya supaya bisa ngeliat kamu lebih cepat di sekolah. Kamu yang pertama bikin aku belajar untuk pake bedak kalau mau berangkat sekolah. Meskipun hasilnya aku tetep dekil, tapi aku udah nyoba. Dari fase “dekil banget” jadi “agak dekil”. Kamu yang pertama ngajarin aku apa yang namanya suka sama orang lain. Cinta monyet? Haha. Bisa dibilang iya. Sewaktu SMA aku bukan gak pernah inget kamu, aku selalu nyoba buat cari informasi tentang kamu tapi mungkin aku hanya kurang berusaha keras jadinya gak banyak informasi yang aku dapat. Nah, setelah 8 tahun aku baru deh ngungkapin. Maaf ya kalau bikin kamu canggung. Atau aku yang terlalu lebay?

Dulu aku dengan senang hati mendekatkan diri ke kamu, dan setiap kamu ke depan kelas aku selalu kagum sama keberanian kamu. Untukku sendiri sih sebenernya hal ke depan kelas ngejawab pertanyaan guru atau presentasi memang bukan hal besar. Untuk hal yang satu itu, aku akui aku gak pernah gugup. Percaya diri yang tingginya kebangetan dalam diri aku sangat membantu sekali untuk kehidupan bersosialisasiku sama orang sekarang. Yah, gak jarang juga sih jadi point minus ._. Balik lagi, keberanian kamu di antara temen cowok kita yang lain gak berlebihan kalau mau diacungi jempol. Aku juga selalu suka logat banjar kamu yang khas karena sebenarnya kamu keturunan bugis. Hal yang bikin aku suka kamu simple yah? Dibandingkan sekarang, aku kalo suka sama orang banyak pertimbangan. Suka si ini tapi anu. Suka si itu tapi gitu. Duh, banyak deh alasannya. Untuk sekarang aku baru sadar sih, Ki. Aku kangen kayak jaman dulu. Pas tertarik sama kamu aku cukup ngikutin kamu, duduk dekat kamu atau merhatiin kamu. Sekarang? Pas tertarik sama orang aku cuma bisa diem. Diem persis kayak patung lembuswana. Umur sedikit banyak pasti ngerubah pola pikir. Dan ada banyak hal yang akhirnya bisa nyusahin. Contohnya: Gengsi. Gengsi bilang kangen apalagi. Drama ya, Ki? Lagian siapa aku ya yang kamu harus dengerin curhatnya. Haha. Maaf.

Kamu sendiri gimana? Hasil stalking sih kayaknya kamu lagi deket sama cewek yah? Cepet nikah gih sana. Jangan lupa akunya diundang. Yang langgeng yah kalian. Untuk apapun cita – cinta yang sedang kamu tuju, semoga dimudahkan dan dikabulkan. Kalau pas kamu baca surat ini ternyata keadaan kamu lagi gak baik – baik saja, inget deh kalau dari umur kamu masih SMP aja uda bisa aku kagum. Masa sekarang gak bisa? Bukan cuma aku, tapi untuk orang lain juga.

Udahan deh. Dibilang kangen sih gak cuma kalau emang ada kesempatan boleh deh reunian sekalian sama temen – temen yang lain. Hehe. Ditunggu ya kabarnya!

Dari aku, temen SMP kamu.

P.S : Kalau kamu masih gak inget Icha, mungkin ST.

P.S.S : Kalau masih gak inget juga, mungkin aku salah kirim surat.

Selasa, 17 Februari 2015

Tentangmu, Tentangku yang Ditentang Tuhan

Teruntuk,

Pria yang kuhindari tatapannya.



Kuulang lagi suratku. Dengan kata berbeda namun makna sama. Kuharap kau tak bosan membacanya. Bacalah. Di dalamnya telah ku pilah kata paling sempurna. Satu – satu akan mengantarkanmu menuju masa di mana aku berada. Apa yang ingin kau dengar? Perihalku menanyakan kabarmu atau aku yang mengabarkan tentangku? Ah apapun. Kita harus terus bahagia. Bersama atau tidak.



Kemarin kusempatkan membaca ulang draft twitter beberapa tahun lalu. Waktu di mana semua rindu untukmu. Lucu. Kuulang juga lagu – lagu yang kita dengarkan selalu. Ada sesak, mungkin rindu yang mendesak. Jangan. Aku sudah berjanji untuk angkuh pada diri sendiri. Menyelamatkan siapa? Bukan aku atau kamu. Bukan juga kita. Kita sudah hilang, Sayang. Dihancurkan. Jika ada yang bisa diselamatkan, barangkali masa depan.

Berapa kalipun aku mencoba menolak menulis surat ini, runtutan kata tetap ujungnya kamu. Kamu seperti guru dalam setiap kalimat yang aku mau. Memerintah tanpa bisa kubantah. Kamu seperti arah untuk setiap paragraf yang aku tuju. Sama seperti sebelumnya, surat ini tentangmu, tentangku yang ditentang Tuhan.

Sudah berapa cara yang kita coba agar bisa bersama? Dari melanggar budaya, orang tua hingga Sang Pencipta. Kita lelah. Kita kalah. Sudahlah sayang, pulanglah selagi masih tersisa kaki untuk berjalan. Selagi masih tersisa hati untuk memilih. Dari bagian hati yang kamu punya, sisakan sedikit ruang untuk tetap mengingatku. Sebagai luka atau duka juga tidak apa – apa.

Kita tidak pernah tahu bagaimana semesta mengantarkan kita kepada kebahagian. Ada melalui rejeki, jodoh atau cita – cita. Tapi kita, kebahagian yang didapat hanya bisa dari bersama. Sekali lagi, Tuhan dan semesta tidak setuju. Sementara ini, meminta padaNya bahkan kukira hanya sebatas rutinitas. Bukan kewajiban.

Sayang, hiduplah agar aku juga hidup. Kita harus tetap keras kepala menunjukkan kepada mereka bahwa kita tersiksa. Bukan mengharap iba, tapi supaya mereka tahu mereka salah.



Dariku,

Wanita yang kau hindari tegur sapanya.