Dari Samarinda, Rumah kita.
Februari 2015.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.
:*
:’)
Surat ini diawali dengan emoticon
yang sering kau gunakan dalam chat kita, Matt.
Bagaimana kabarmu? Bahagiakah? Aku harap begitu. Selalu. Siang ini matahari
kota kita sedang terik, tidak seperti di Malang. Kota tempatmu bertamu
sekarang. Katamu Malang sedang hujan. Bagaimana kota Malang? Dingin di sana
bikin kamu kangen selimut kita gak? Haha.
Matt, hari rabu kemarin aku sudah ke PMI untuk ambil sample darah.
Hasilnya belum ketahuan, kata pegawainya disuruh kembali Jumat besok. Kau
tahulah Indonesia, selalu mengulur waktu selagi mampu. Semoga hasilnya baik –
baik saja. Maafkan aku karena tidak menunggumu pulang untuk cek bareng, maklum
aku susah dapat ijin dari kantor. Lalu kapan kau akan ke Bali? Ah, aku iri.
Harusnya aku menonton pertunjukan tarian kecak denganmu. Sambil mengagumi, aku
akan diam – diam mengambil fotomu. Ekspresi wajahmu ketika sedang kagum kan
mengagumkanku. Hehe.
Matt, kusudahi surat ini yah. Aku takut mengganggu liburanmu. Hati
– hati di kota orang. Kalau nyebrang jalan, lihat kiri dan kanan. Kalau sedang
nawar barang, jangan beri harga semampu kau beli tapi yang senilai. Bersenang –
senanglah di sana. Pulang nanti, ceritakan padaku apa saja yang kau alami. Di
dalam kamar, kita akan berbincang sampai larut malam sambil cekikikan. Mungkin
sambil mengunyah oleh – oleh darimu yang berupa cemilan :’) bukan kode kok, Matt. Haha. Sudahlah, di kota orang
jangan pikirin mantan. Mending juga konsen liat – liat keagungan Tuhan.
Kabari jika kau sudah di Surabaya
agar aku sempat mengganti seprai kita. Agar tidurmu nyaman dan lelahmu hilang.
Dari Surabaya, Malang sampai Bali, doaku menyertai. Cepat pulang. Aku kangen.
Oke. Ini menjijikkan. Dadah.
Untuk Matt : Mutmainna Ayu Thamrin Toha.
Adik bungsu yang lebih cantik dariku.
Kembali menyimak surat untuk sebuah cinta :)
BalasHapus